Jumat, 08 Oktober 2010

Ramadhan tiba...!!

Alhamdulillah, tamu agung dengan membawa berjuta-juta keuntungan itu datang lagi. Tamu agung yang sangat istimewa segera menjelang menghampiri ruh-ruh yang rapuh terobsesi oleh api dunia yang membakar menghauskan.Kedatanganmu kami tunggu wahai syahrul mubarok. Datanglah untuk menghapus dahaga iman dan jiwa kami, datanglah untuk membelenggu kedurjanaan, datanglah untuk menghapus duka nestapa disebsbkan oleh perihnya hati menapaki jalan kemunafikan, jalan kedustaan, jalan kesombongan, jalan kesesatan yang kami tutupi setahun lalu.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Bulan Ramadhan telah datang. Bulan penuh barakah itu disambut gembira oleh segenap kaum muslimin di seluruh belahan bumi ini. Banyak hikmah yang dapat diambil dalam bulan Ramadhan. Karena itulah bulan Ramadhan yang maghfirah mempunyai beberapa sebutan, antara lain Syahrut Tabiyah dan Sahrul Jihad. Bulan Ramadhan menjadi bulan yang penuh hikmah. Hikmah-hikmah itu sebagai berikut.
1. Syahrut-Tarbiyah
Tahukah Anda mengapa bulan Ramadhan disebut dengan syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan? Pada bulan itu kita dididik langsung oleh Allah swt. Kita diajarkan supaya bisa mengatur waktu dalam kehidupan kita. Kapan waktu makan, kapan waktu bekerja, kapan waktu istirahat dan kapan waktu ibadah.
Program madrasah Ramadhan diharapkan dapat membentuk manusia yang takwa. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
2. Syahrul Jihad
Pada masa Rasulullah beberapa peperangan terjadi pada bulan Ramadhan dan itu semua dimenangkan kaum muslimin. Saat ini boleh jadi perang secara fisik tidak kita lakukan. Namun, yang paling penting kita lakukan sekarang adalah kita berjihad melawan hawa nafsu. Ramadhan adalah bulan di mana kita hendaknya melepaskan diri dari amarah dan syahwat. Sesungguhnya berpuasa di bulan Ramadhan adalah menahan diri dari keinginan baik mulut, perut dan apa yang ada dibawah perut. Karena itulah bulan Ramadhan menjadi tempat dalam berjihad melawan hawa nafsu diri kita sendiri.
3. Syahrul Qur’an
Al-Qur’an petama sekali diturunkan di bulan Ramadhan dan pada bulan itu disunahkan kita banyak membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an sehingga kita paham dan mengerti perintah Allah yang terkandung di dalamnya. Di bulan Ramadhan inilah kita seharusnya dapat menargetkan khatam Al-Qur’an. Selain pada bulan Ramadhan, Rasulullah saw. membatasi para sahabat mengkhatamkan Al-Qur’an 10 kali dalam sebulan. Padahal sebenarnya banyak sahabat yang ingin lebih banyak daripada itu. Dan pada bulan Ramadhan itulah Rasulullah saw. memberi kebebasan untuk mengkhatamkan. Itulah sebabnya salah satu kebiasaan Ustman bin Affan dalam bulan Ramadhan adalah khatam Al-Qur’an setiap hari.
Begitu pula para ulama salafus shalih, kebiasaan mengajar dan berdakwah mereka hentikan selama bulan Ramadhan. Karena selama satu bulan (Ramadahan) itulah mereka khususkan untuk mencari pahala dengan membaca Al-Qur’an. Tentunya bagi mereka yang belum lancar membaca Al-Qur’an, inilah momen yang paling tepat untuk meningkatkan belajarnya. Karena itu akan sangat bagus jika mereka mempunyai target mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar dan benar pada tanggal 1 Syawalnya.
4. Syahrul Ukhuwah
Pada bulan Ramadhan kita merasakan sekali ukhuwah di antara kaum muslimin terjalin sangat erat dengan selalu berinteraksi di masjid atau mushola untuk melakukan shalat berjama’ah, baik itu shalat-shalat wajib maupun shalat tarawih. Sesama muslim bersama-sama berdoa, dan saling mendoakan. Di antara tetangga juga saling mengantarkan hidangan buka puasa, sehingga terasa sekali kebersamaan dan kesatuan di antara kaum muslimin. Di bulan ini kita juga akan merasakan betapa ringannya bersedekah dan menolong saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan. Di bulan ini dengan hati yang tulus, kita akan mengeluarkan zakat dari harta yang kita miliki, untuk disampaikan kepada yang berhak. Perbuatan ini memiliki hikmah dan nilai ukhuwah yang tinggi dikalangan kaum Muslimin.
5. Syahrul Ibadah
Bulan Ramadhan disebut juga dengan bulan ibadah karena pada bulan ini kita banyak sekali melakukan ibadah-ibadah sunnah di samping ibadah wajib seperti shalat sunnah dhuha, rawatib, tarawih ataupun qiyamul lail serta tadarusan Al-Qur’an. Allah akan melipat gandakan pahala suatu ibadah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan yang lain. Dalam bulan itulah, syetan juga diikat agar tidak mengganggu ibadah seorang hamba Allah, meskipun realitasnya masih ada juga gangguan saat beribadah. Kondisi seperti itulah yang seharusnya memacu kita untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.
Itulah di antara hikmah bulan Ramadhan sesuai dengan nama-namanya. Karena itu marilah kita sambut bulan Ramadhan ini dengan penuh gembira dan suka cita.

Selasa, 05 Oktober 2010

JANG NARA my acctres favorite..

Jang Nara
Born March 18, 1981 (1981-03-18
Origin Seoul, South Korea
Genres Pop
Occupations Singer, Actress
Labels Pure Entertainment
Associated acts SM Entertainment
Website Official Website

FATWA NABI SAW

 SAYANGI YANG MUDA

  Dari amri bin syu'aib dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu anhum, dia berkata 'Rasulullah saw bersabda, "bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang kecil (muda) dari kami, dan mengenal kemuliaan orang yang tua dari kamu, "(Hadits shahih riwayat Abu Daud, At Tarmidzi, dan Tirmidzi mengatakan'hadits hasan shahih')
Dalam riwayat Abu Dawud.."hak orang yang tua dari kamu."

FAEDAH  HADITS
Sebagian ahli ilmu menyatakan bahwa makna 'bukan termasuk golongan kami' adalah bukan termasuk sunnah kam, bukan adab kita.Namun Sufyan Ats Tsuri  mengatakan, maknanya adalah 'tidak termasuk agama  kita.'
1.Hadits ini menunjukkan tentang di sunnahkannya bersikap rahmat pada yang lebih tua atau yunior, memberikan kasih sayang pada mereka, walas asih dan berbuat kebaikan pada mereka.
2.Yang senior memang dianjurkan menyayangi yang yunior,namun yang begitu muda tak boleh menang sendiri. Ia pun dianjurkan menghormati orang lebih tua darinya.
3. Sebuah masyarakat islam laksana bangunan yang kokoh dan teratur, Ia menyayangi yang muda dan menghormati yanglebih tua. Baik  yang tua maupun yang muda mempunyai kedudukan dalam dinding bangunan islam yang telah disempurnakan oleh Rasulullah. Kekokohan hubungan antara keduanya akan menjadikan kuatnya sebuah masyarakat Islam.
4. Demikian pula hendaknya setip komponen masyarakat mengenal keutamaanorang yang berilmu. para Ulama

Senin, 04 Oktober 2010

surat Yasiin

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
يس ﴿١﴾ وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ ﴿٢﴾ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ ﴿٣﴾ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٤﴾ تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ﴿٥﴾ لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ ﴿٦﴾ لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿٧﴾ إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ ﴿٨﴾ وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ ﴿٩﴾ وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿١٠﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَـٰنَ بِالْغَيْبِ ۖ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ ﴿١١﴾ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ ﴿
١٢
[1]
Yaa, Siin.
[2]
Demi Al-Quran yang mengandungi hikmat-hikmat dan kebenaran yang tetap kukuh,
[3]
Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad adalah seorang Rasul) dari Rasul-rasul yang telah diutus,
[4]
Yang tetap di atas jalan yang lurus (ugama Islam).
[5]
Al-Quran itu, diturunkan oleh Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Mengasihani,
[6]
Supaya engkau memberi peringatan dan amaran kepada kaum yang datuk neneknya telah lama tidak diberikan peringatan dan amaran; sebab itulah mereka lalai.
[7]
Demi sesungguhnya, telah tetap hukuman seksa atas kebanyakan mereka, kerana mereka tidak mahu beriman.
[8]
Sesungguhnya Kami jadikan (kesombongan dan keengganan mereka tunduk kepada kebenaran sebagai) belenggu yang memberkas kedua tangan mereka ke batang leher mereka; (lebarnya belenggu itu) sampai (menongkatkan) dagu mereka lalu menjadilah mereka terdongak.
[9]
Dan Kami jadikan (sifat tamak dan gila mereka kepada harta benda dan pangkat itu sebagai) sekatan (yang menghalang mereka daripada memandang kepada keburukan dan kesingkatan masa dunia yang ada) di hadapan mereka, dan sekatan (yang menghalang mereka daripada memikirkan azab yang ada) di belakang mereka (pada hari kiamat). lalu Kami tutup pandangan mereka; maka dengan itu, mereka tidak dapat melihat (jalan yang benar).
[10]
Dan (dengan sebab itu) sama sahaja kepada mereka, engkau beri amaran atau engkau tidak beri amaran kepadanya – mereka tidak akan beriman.
[11]
Sesungguhnya peringatan dan amaran (yang berkesan dan mendatangkan faedah) hanyalah yang engkau berikan kepada orang yang sedia menurut ajaran Al-Quran serta ia takut (melanggar perintah Allah) Ar-Rahman semasa ia tidak dilihat orang dan semasa ia tidak melihat azab Tuhan. Oleh itu berilah kepadanya berita yang mengembirakan dengan keampunan dan pahala yang mulia.
[12]
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami tuliskan segala yang mereka telah kerjakan serta segala kesan perkataan dan perbuatan yang mereka tinggalkan. Dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu kami catitkan satu persatu dalam Kitab (ibu Suratan) yang jelas nyata.

Selasa, 28 September 2010

QUR-AN TIDAK MENUNJUKKAN URUT-URUTAN DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI

Dalam dua paragraf daripada Qur-an yang baru saja kita
sebutkan, terdapat ayat mengenai penciptaan langit-langit
dan bumi (surat 7 ayat 54), dan di lain tempat disebutkan
penciptaan bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12),
nampak bahwa Qur-an tidak menunjukkan urut-urutan dalam
penciptaan langit-langit dan bumi.

Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi
lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam surat
20 ayat 4. Akan tetapi terdapat lebih. banyak ayat-ayat di
mana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54,
surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32
ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27,
dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).



Jika kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam
Qur-an yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.
Yang terdapat hanya huruf "wa" yang artinya "dan" serta
fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata
"tsumma" yang sudah kita bicarakan di atas dan yang dapat
menunjukkan, sekedar sesuatu di samping sesuatu lainnya,
atau urutan.

Pada hemat saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Quran,
di mana disebutkan urutan antara kejadian-kejadian
penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ۚ بَنَاهَا ﴿٢٧﴾ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا ﴿٢٨﴾ وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا ﴿٢٩﴾ وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا ﴿٣٠﴾ أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا ﴿٣١﴾ وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا ﴿٣٢﴾ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ ﴿٣
Artinya: "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya
ataukah langit? Allah telah membinanya Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.
Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan
menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi
sesudah itu dihamparkannya. Ia memancarkan
daripadanya mata airnya dan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung
dipancangkannya dengan teguh Semua itu untuk
kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu."

Perincian nikmat-nikmat Dunia yang Allah berikan kepada
manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi
petani atau orang-orang pengembara (nomad) di Jazirah
Arabia, didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang
penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan
menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman,
dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah
terlaksana. Terang bahwa di sini ada dua hal yang
dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan kelompok
kejadian-kejadian di bumi yang diterangkan dengan waktu.
Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi
harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada
ketika Tuhan membentuk langit. Dapat kita simpulkan bahwa
evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan
kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak
perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi
sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan
alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan,
jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat
lain.

Proses fundamental daripada pembentukan kosmos dan
kesudahannya dengan penyusunan alam

Dalam dua ayat Qur-an disajikan suatu sintesa singkat
daripada fenomena-fenomena yang menyusun proses fundamental
tentang pembentukan kosmos.

Surat 21 ayat 30:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ ﴿٣٠﴾

Artinya: "Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bakwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air,
Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka
mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai berikut:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ ﴿١١﴾
Artinya: "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit
dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah
kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati
atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datan8
dengan suka hati."

Nanti kita akan membicarakan tentang asal kehidupan yang
dikatakan "air," di samping masalah-masalah biologi yang
terdapat dalam Qur-an. Untuk sementara kita dapat
menyimpulkan sebagai berikut:

a). Menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan
bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap
itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian
kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair,
dan dalam suhu rendah atau tinggi

b). Menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan
pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang
dipadukan (ratq). Kita tegaskan lagi, "fatq" dalam bahasa
Arab artinya memisahkan dan "ratq" artinya perpaduan atau
persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang
homogen.

Konsep kesatuan yang berpisah-pisah menjadi beberapa bagian
telah diterangkan dalam bagian-bagian lain dari Qur-an
dengan menyebutkan alam-alam ganda. Ayat pertama dari surat
pertama dalam Qur-an berbunyi: "Dengan nama Allah, Maha
Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam."

Kata-kata alamin (alam-alam) terdapat berpuluh kali dalam
Qur-an. Langit-langit juga disebutkan sebagai ganda, bukan
saja dalam bentuk kata jamak; tetapi dengan angka simbolik
yaitu angka tujuh. Angka tujuh dipakai dalam Qur-an 24 kali
untuk maksud bermacam-macam. Sering kali angka tujuh itu
berarti "banyak" dan kita tidak tahu dengan pasti sebabnya
angka tersebut dipakai. Bagi orang-orang Yunani dan
orang-orang Rumawi, angka 7 juga mempunyai arti "banyak"
yang tidak ditentukan. Dalam Qur-an angka 7 dipakai 7 kali
untuk memberikan bilangan kepada langit, angka 7 dipakai
satu kali untuk menunjukkan langit-langit yang tidak
disebutkan. Angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan 7
jalan di langit.

Bacalah ayat-ayat di bawah ini. Surat 2 ayat 29.


هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٢٩﴾

Artinya: "Dialah .Allah, yang menyaksikan segala yang
ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh
langit Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."

Surat 23 ayat 17.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ ﴿١٧﴾

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di
atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami sekali-
kali tidaklah lengah terhadap ciptaan."

Surat 67 ayat 3
لَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَـٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ ﴿

Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-
lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang-
ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang?"

Surat 71 ayat 15-16
﴾ أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّـهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ﴿١٥﴾ وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا ﴿١٦
Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
telah menciptakan tujuh langit bertingkat-
tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan
sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai
pelita?"

Surat 78 ayat 12.

وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا ﴿١٢﴾
Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit
yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat
terang (matahari)."10

Untuk ayat-ayat tersebut para ahli tafsir Qur-an sepakat
bahwa angka 7 menunjukkan "banyak" dengan tak ada perinci.11

Langit-langit adalah banyak, dan bumi juga banyak. Pembaca
modern yang membaca Qur-an akan heran bahwa ia menemukan
dalam suatu teks dan abad VI suatu benda yang
mengatakan bahwa bumi-bumi seperti bumi kita terdapat dalam
kosmos, padahal manusia pada zaman kita sekarang ini, sampai
hari ini belum dapat membuktikan.

Sesungguhnya surat 65 ayat 12 berbunyi:

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ﴿١
Artinya: "Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi, berlaku perintah {Allah) di
antaranya, (Allah menciptakan yang demikian)
supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah,
ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu."

Karena angka tujuh menunjukkan "ganda" yang tak ditentukan,
kita dapat mengambil konklusi bahwa teks Qur-an menunjukkan
dengan jelas bahwa tidak hanya terdapat suatu bumi, bumi
manusia, tetapi terdapat bumi-bumi lain yang serupa dalam
kosmos ini.

Suatu hal lain yang mentakjubkan pembaca Qur-an pada abad 20
ini adalah ayat-ayat yang menyebutkan tiga macam benda-benda
yang diciptakan, yaitu:

Benda-benda yang terdapat di langit
Benda-benda yang terdapat di atas bumi.
Benda-benda yang terdapat di antara langit-langit dan bumi.

Bacalah ayat 6 surat 20:rab]
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ ﴿٦﴾
Artinya: "KepunyaanNyalah semua yang ada di langit,
semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya
dan semuanya yang di bawah tanah."

Surat 25 ayat 59 :

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَـٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا ﴿٥٩
Artinya: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada di antara keduanya dalam enam masa."

Surat 32 ayat 4 .
اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿٤﴾
Artinya: "Allahlah yang menciptakan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam
masa, kemudian Ia bersemayam di atas 'arsy."

Surat 50 ayat 38.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ ﴿٣٨﴾
Artinya: "Dan sesunggahnya telah Kami ciptaan langit
dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam
enam masa dan Kami sedikitpun tidak ditimpa
keletihan."12

Kata-kata "yang ada di antara langit dan bumi," terdapat
juga dalam surat 21 ayat 16, surat 44 ayat 7 dan 38, surat
78 ayat 37, surat 15 ayat 85, surat 46 ayat 3 dan surat 43
ayat 85.

Penciptaan di luar langit dan bumi yang berkali-kali
tersebut dalam Qur-an, secara apnori kurang dapat
digambarkan. Untuk memahami ayat-ayat tersebut, kita perlu
kembali kepada penemuan manusia yang paling modern tentang
adanya bahan-kosmik ekstra galaktik, dan untuk itu kita
harus mengarah dan yang paling sederhana kepada yang paling
kompleks dan mengikuti hasil-hasil Sains masakini mengenai
terbentuknya kosmos. Hal ini akan kita bicarakan dalam
paragraf yang akan datang.

Tetapi sebelum memasuki pemikiran-pemikiran yang bersifat
ilmiah murni, saya rasa baik untuk meringkaskan dasar-dasar
pokok yang dipakai oleh Qur-an untuk memberi penerangan
kepada kita tentang penciptaan kosmos. Menurut hal-hal yang
telah kita bicarakan, dasar-dasar tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Adanya enam penode untuk penciptaan pada umumnya
2. Adanya jaringan yang berkaitan antara tahap-tahap
penciptaan langit-langit dan tahap-tahap penciptaan bumi.
3. Penciptaan kosmos mula-mula dari kumpulan yang unik yang
merupakan kesatuan dan kemudian terpecah.
4. Terdapatnya banyak langit dan banyak bumi.
5. Terdapatnya benda-benda ciptaan Tuhan antara langit-langit dan bumi.

JANGAN JADIKAN AIR ITU BERHENTI..!!!!!

JANGAN JADIKAN AIR ITU BERHENTI..!!!!!

oleh Oesman Elhaffizh pada 01 Agustus 2010 jam 1:29


Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk menerjang apa saja, maka debur aliran air itu tiada pernah berhenti. Kalau Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan air ini, kita bisa katakan bahwa justru kalau air itu berhenti, dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan menjadi rusak, kotor, sarang nyamuk, dan bau serta berubah warnanya. Begitu juga dengan potensi jihad yang ada pada kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina-i (jihad membina), jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itupun akan bernasib sama dengan air itu. Karenanya wajar bila Allah swt memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka bila mereka meninggalkan jihad, dan menyibukkan diri dengan urusan pertanian dan perkebunan.
Perang Ahzab atau perang Khandaq adalah pertempuran yang sangat melelahkan. Memang pertempuran dalam arti saling bunuh membunuh dalam jarak dekat tidak banyak terjadi. Namun, 10000 pasukan multinasional yang mengepung Madinah telah membuat kaum muslimin tidak sempat melakukan shalat Zhuhur, Ashar, dan Maghrib secara ‘normal’. Bahkan hanya sekedar kencing saja juga tidak sempat.
Selesai perang yang sangat melelahkan secara phisik dan psikis ini, Rasulullah saw hendak beristirahat barang sejenak. Karenanya, beliau sarungkan dan gantungkan pedang dan senjata beliau. Namun Allah swt tidak menginginkan beliau dan kaum muslimin beristirahat. Karenanya, Allah utus malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw. Sambil tetap berada di atas bighal, malaikat Jibril as berkata: “Sepertinya engkau sudah meletakkan senjatamu, wahai Rasulullah saw? Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka ....” (Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam). Riwayat ini menggambarkan kepada kita agar kita tidak berhenti dari berjihad.
Pada suatu hari, ada beberapa orang Anshar sedang berkumpul-kumpul. Mereka saling berkata diantara mereka: “Sekarang Islam telah jaya, telah eksis, dan telah kokoh. Sebaiknya kita kembali ke ladang-ladang kita, kebun-kebun kita, kita urus lagi harta kekayaan kita yang selama ini terbengkalai dan kita garap lagi lahan-lahan itu dengan serius, lahan yang selama ini telah kita tinggalkan dalam rangka berjihad fi sabilillah, dan hasilnya toh kita infaqkan fii sabilillah juga, sementara jihad di medan laga biar ditangani oleh saudara-saudara kita lainnya”. Maka Allah swt menurunkan : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah: 195). Riwayat yang satu ini menggambarkan kepada kita bahwa kehancuran atau kebinasaan (istilah Al Qur’annya ‘tahlukah’) adalah karena meninggalkan jihad.
Kalau dua riwayat ini kita hubungkan dengan sirah Rasulullah saw lainnya, kita akan temukan angka-angka berikut :
§ Peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (ghozwah) ada 26 ghozwah.
§ Peperangan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (sariyyah) ada 38
sariyyah.
Maka kita akan dapat menarik satu kesimpulan bahwa manuver Rasulullah saw dan para sahabatnya itu tiada henti dan tanpa putus. Bagaimana tidak, waktu yang kurang lebih sepuluh tahun itu terisi oleh peperangan 64 kali peperangan. Sungguh, sebuah manuver yang menggambarkan betapa Rasulullah saw dan para sahabatnya senantiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya secara maksimal dan tiada henti, sehingga tidak ada waktu lagi untuk bersitirahat dan meng-andai-andaikan hal-hal yang sifatnya duniawi.
Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk menerjang apa saja, maka debur aliran air itu tiada pernah berhenti. Kalau Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan air ini, kita bisa katakan bahwa justru kalau air itu berhenti, dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan menjadi rusak, kotor, sarang nyamuk, dan bau serta berubah warnanya. Begitu juga dengan potensi jihad yang ada pada kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina-i (jihad membina), jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itupun akan bernasib sama dengan air itu. Karenanya wajar bila Allah swt memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka bila mereka meninggalkan jihad, dan menyibukkan diri dengan urusan pertanian dan perkebunan.
Firman Allah swt diatas dipertegas juga oleh hadits Rasulullah saw yang menyatakan : “Jika kalian telah berjual beli secara ‘inah (rekayasa dan akal-akalan dalam praktek riba), kalian telah mengambil ekor sapi dan puas (asyik) dengan pertanian serta meninggalkan jihad, niscaya Allah swt akan menjadikan kehinaan menguasai kalian yang tidak akan dicabut sehingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Daud dan Ahmad, dan DR. Nashirud-Din Al Albani menilainya hasan).
Berkenaan dengan hal ini simaklah apa yang dikatakan oleh Sayyid Qutub dalam salah satu bukunya :
Yang demikian ini karena, hakikat iman tidak akan sempurna dalam hati, melainkan setelah :
1. Bermujahadah dalam menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini
a. Mujahadah dengan hati; bentuknya: membenci kebatilan mereka, jahiliyyah mereka dan bertekad memindahkan mereka dari kebatilan dan jahiliyyah itu kepada kebenaran dan Islam.
b. Mujahadah dengan lisan; bentuknya:
- Tabligh.dan bayan (penerangan).
- Menolak kebatilan mereka yang merupakan kepalsuan itu.
- Menegaskan kebenaran yang dibawa Islam.
c. Dan mujahadah dengan tangan atau fisik; bentuknya: menolak dan menyingkirkan mereka-mereka yang melakukan penghadangan terhadap jalan hidayah dengan mempergunakan kekuatan yang melampaui batas dan penghancuran yang curang.
<!--[2. Merasakan melalui mujahadah-nya itu:
a. Ujian (ibtila’ atau tribulasi) dan rasa sakit.
b. Bersabar atas ibtila’ dan rasa sakit itu.
c. Bersabar atas kekalahan, dan
d. Bersabar atas kemenangan, karena, bersabar atas kemenangan lebih berat (sulit) dari pada bersabar atas kekalahan. Kemudian ?
<!--[1. Tetap tsabat (tegar) dan tidak ragu-ragu, istiqamah dan tidak menolah-noleh dan terus maju dalam meniti jalan iman dengan terus menanjak dan tidak tersesat.
Hakikat iman tidak sempurna dalam hati sehingga menghadapkannya untuk mujahadah menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini. Sebab, saat ia mujahadah menghadapi orang banyak itu sesungguhnya:
• Ia sendiri sedang bermujahadah melawan dirinya sendiri.
• Akan terbuka baginya wawasan dan pemandangan keimanan yang tidak pernah terbuka baginya selamanya bila ia hanya duduk (diam) dengan aman dan tenang.
• Akan jelas baginya hakekat-hakekat tentang manusia dan kehidupan yang belum pernah manjadi jelas baginya selamanya tanpa adanya wasilah (sarana) ini.
• Ia sendiri -dengan jiwanya, segala perasaannya, persepsi-persepsinya, kebiasaannya,tabiatnya, emosinya dan responnya- akan sampai pada sesuatu yang tidak mungkin sampai kepadanya tanpa pengalaman berat dan sulit ini.
Inilah sebagian dari yang diisyaratkan firman swt: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (QS Al Baqarah: 251). Dan kerusakan yang pertama kali terjadi adalah kerusakan jiwa manusia (nafsul insan), kerusakan yang terjadi karena rukud (diam, tidak bergerak, atau istilahnya berharakah, tidak mengalir), rukud yang menyebabkan:
a. ruhnya membusuk akibat adanya stagnasi
b. Himmah (semangat)-nya istirkha’ (mengendor, lembek, loyo, tidak kenceng).
c. Nafs (jiwa)-nya rusak dikarenakan adanya rakha’ (bergelimangnya harta dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan hal-hal yang berat).
Yang pada akhirnya seluruh kehidupanpun menjadi rusak gara-gara rukud tadi. Atau karena hanya bergerak pada bidang syahwat saja, sebagaimana yang terjadi pada bangsa-bangsa yang mendapatkan cobaan dalam bentuk kemewahan hidup. (Lihat : Hadzad-diin, Sayyid Qutub, hal: 12 - 13)

Oes Hifdzer

Oes Hifdzer

penamatan haffizh 2010